https://kapuas.times.co.id/
Berita

Khutbah Jumat Edisi 23 Januari 2026: Saatnya Fikih Jadi Solusi Politik Indonesia

Jumat, 23 Januari 2026 - 08:36
Khutbah Jumat Edisi 23 Januari 2026: Saatnya Fikih Jadi Solusi Politik Indonesia Ilustrasi kaum muslimin mendengarkan khutbah Jumat. (FOTO: Yusuf Arifai/TIMES Indonesia)

TIMES KAPUAS, JAKARTA – Berikut Khutbah Jumat edisi 23 Januari 2026 yang bisa dijadikan referensi khatib. 

Khutbah Pertama 

الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له.
أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله.
اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT Ketakwaan yang bukan hanya tampak dalam ibadah ritual, tetapi juga tercermin dalam cara berpikir, bersikap, dan mengambil keputusan di tengah kehidupan yang terus berubah.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Kita hari ini hidup di tengah zaman yang bergerak cepat. Persoalan hidup semakin kompleks: persoalan politik, kebangsaan, ekonomi, teknologi, hingga relasi antarumat beragama.

Semua bergerak dinamis. Sementara itu, sumber ajaran Islam, Al-Quran dan Hadis secara lahiriah bersifat tetap dan tidak berubah.

Realitas inilah yang oleh para ulama dirumuskan dalam satu kaidah besar:

النُّصُوصُ مُتَنَاهِيَةٌ وَالْوَقَائِعُ غَيْرُ مُتَنَاهِيَةٍ

“Teks-teks syariat itu terbatas, sementara realitas dan peristiwa kehidupan tidak terbatas.”

Kaidah ini tidak dimaksudkan untuk melemahkan otoritas wahyu, tetapi justru untuk menjaga agar Islam tetap relevan, hidup, dan mampu menjawab zaman.

Sebab teks yang dipahami secara kaku, tanpa metodologi, justru berpotensi melahirkan stagnasi, fanatisme sempit, bahkan kekacauan.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Fakta pertama yang harus kita terima adalah: seluruh ajaran Islam bersumber dari teks. Al-Qur’an dan Hadis adalah teks. Dan teks, karena sifatnya yang diam, membuka ruang penafsiran.

Di sinilah muncul potensi kebaikan sekaligus potensi penyimpangan. Teks bisa menjadi sumber hidayah, tetapi juga bisa dipelintir untuk membenarkan kepentingan kekuasaan dan kelompok.

Karena itulah, para ulama tidak membiarkan umat membaca teks tanpa pagar metodologi. Dalam tradisi pesantren, dirumuskan ushul fikih dan kaidah-kaidah fikih sebagai alat berpikir, bukan sekadar alat berhukum.

Imam as-Suyuthi رحمه الله dalam Al-Asybah wa an-Nazha’ir menjelaskan bahwa kaidah fikih adalah fondasi bagi ribuan cabang hukum. Ia bukan hukum itu sendiri, tetapi cara berpikir hukum.

Maka tidak mengherankan jika kaum santri sering kali lebih akrab dengan kaidah fikih daripada dalil parsial. Keakraban inilah yang membentuk karakter berpikir pesantren: analitik, kontekstual, dan tidak reaktif.

Salah satu kaidah penting yang diajarkan para ulama adalah:

الْأَصْلُ بَقَاءُ مَا كَانَ عَلَى مَا كَانَ

“Hukum asal sesuatu tetap sebagaimana keadaannya semula.”

Awalnya, kaidah ini digunakan dalam hukum Islam untuk menjaga asas praduga tak bersalah. Namun dalam sejarah Indonesia, kaidah ini berkembang menjadi cara pandang kebangsaan yang visioner.

Dengan kaidah ini, para kiai Nusantara memahami bahwa kesepakatan kebangsaan yang telah ada harus dijaga selama tidak bertentangan dengan prinsip agama. Maka Indonesia dipahami sebagai Darul Islam, negeri yang memungkinkan umat Islam menjalankan syariatnya dengan aman dan bermartabat.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Di sinilah kita belajar bahwa kaidah fikih tidak hanya hidup di kitab kuning, tetapi juga bekerja dalam sejarah. Para kiai kita mampu merumuskan format kebangsaan yang berketuhanan, berkeadilan, dan menopang keragaman.

Penetapan Presiden Soekarno sebagai:

وَلِيُّ الأَمْرِ الضَّرُورِيِّ بِالشَّوْكَةِ

(waliyyul amri ad-dharuri bis syaukah)

bukanlah kompromi akidah, melainkan ijtihad politik untuk mencegah kekacauan dan menjaga persatuan umat.

Inilah Islam Ahlussunnah wal Jama’ah: Islam yang berakar pada teks, tetapi bergerak bersama realitas.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Kembali saya wasiatkan kepada diri saya dan jamaah sekalian untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Sejarah Indonesia modern kembali menunjukkan kepada kita bagaimana kaidah fikih bekerja secara nyata dalam diri KH. Abdurrahman Wahid, Gus Dur. Dalam banyak tulisan dan kebijakannya, Gus Dur jarang mengutip ayat atau hadis secara literal. Yang sering ia gunakan justru kaidah fikih.

Salah satunya adalah:

تَصَرُّفُ الإِمَامِ عَلَى الرَّعِيَّةِ مَنُوطٌ بِالْمَصْلَحَةِ

“Kebijakan seorang pemimpin terhadap rakyatnya harus didasarkan pada kemaslahatan.”

Dengan kaidah ini, Gus Dur mampu merumuskan relasi antara agama, negara, dan kebudayaan. Ia mengkritik kebijakan yang diskriminatif, membela kelompok minoritas, dan mengambil langkah-langkah politik yang sering dianggap kontroversial.

Namun bagi orang yang tidak terbiasa dengan mekanisme kerja kaidah fikih, jalan politik para kiai sering disalahpahami sebagai plin-plan atau oportunis. Padahal, yang terjadi adalah kelenturan berpikir yang berakar kuat pada maqashid syariah.

Kaidah fikih juga mengajarkan keseimbangan, sebagaimana ungkapan para ulama:

إِذَا ضَاقَ الأَمْرُ اتَّسَعَ، وَإِذَا اتَّسَعَ ضَاقَ

“Ketika suatu perkara menjadi sempit, hukum menjadi longgar; dan ketika longgar, hukum bisa diperketat.”

Inilah fikih yang hidup. Fikih yang mampu menjadi jalan tengah. Sebagaimana dawuh KH. Wahab Chasbullah رحمه الله:

“Pekih iku nek rupek yo diokeh-okeh.”
(Fikih itu kalau ruwet, harus bisa dicarikan jalan keluarnya).

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Mari kita rawat Islam Ahlussunnah wal Jama’ah yang berilmu, berakhlak, dan berwawasan kebangsaan. Jangan kita sempitkan Islam hanya pada ritual, dan jangan pula kita lepaskan dari tanggung jawab sosial dan kebangsaan.

Semoga Allah menjadikan kita umat yang bijak dalam beragama, adil dalam bersikap, dan setia menjaga persatuan bangsa.

أقول قولي هذا، وأستغفر الله العظيم لي ولكم، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.


Khutbah Kedua


الحمدُ لله حمدًا كثيرًا طيبًا مباركًا فيه كما يحبُّ ربُّنا ويرضى، له الحمد في الأولى والآخرة، وله الحكم وإليه تُرجعون.
أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن سيدنا محمدًا عبدُه ورسولُه، اللهم صلِّ وسلِّم وبارك على سيدنا محمد، وعلى آله وصحبه، ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ رَحِمَكُمُ اللَّهُ،

أُوصِيكُمْ وَنَفْسِيَ الْمُقَصِّرَةَ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللَّهِ خَيْرُ زَادٍ لِيَوْمِ الْمَعَادِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ مَنْ اتَّقَى اللَّهَ جَعَلَ لَهُ مَخْرَجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ.

مَعَاشِرَ الْمُؤْمِنِينَ رَحِمَكُمُ اللَّهُ،

إِنَّ مِنْ أَعْظَمِ مَا تَمَيَّزَتْ بِهِ أُمَّتُنَا فِي تَارِيخِهَا الْعِلْمِيِّ وَالْحَضَارِيِّ أَنَّهَا لَمْ تَفْصِلْ بَيْنَ النَّصِّ وَالْوَاقِعِ، وَلَمْ تُقَدِّسِ النَّصَّ تَقْدِيسًا يُؤَدِّي إِلَى جُمُودِ الْفِكْرِ، وَلَمْ تُطْلِقِ الْوَاقِعَ إِطْلَاقًا يُؤَدِّي إِلَى تَضْيِيعِ الدِّينِ.

وَمِنْ هُنَا، رَسَّخَ الْعُلَمَاءُ قَوَاعِدَ الْفِقْهِ، لِتَكُونَ مِيزَانًا فِي الْفَهْمِ، وَأَدَاةً فِي التَّنْزِيلِ، وَجِسْرًا بَيْنَ الشَّرِيعَةِ وَالْحَيَاةِ.

وَقَدْ قَرَّرَ الْعُلَمَاءُ قَاعِدَةً عَظِيمَةً فِي السِّيَاسَةِ الشَّرْعِيَّةِ، وَهِيَ قَوْلُهُمْ:

تَصَرُّفُ الإِمَامِ عَلَى الرَّعِيَّةِ مَنُوطٌ بِالْمَصْلَحَةِ

أَيْ: أَنَّ كُلَّ سِيَاسَةٍ، وَكُلَّ قَرَارٍ، وَكُلَّ تَصَرُّفٍ مِنَ الْحَاكِمِ، لَا يَكُونُ شَرْعِيًّا إِلَّا إِذَا قَامَ عَلَى الْمَصْلَحَةِ، وَدَفْعِ الْمَفْسَدَةِ، وَحِفْظِ مَقَاصِدِ الشَّرِيعَةِ.

وَبِهَذِهِ الْقَاعِدَةِ، اسْتَطَاعَ عُلَمَاؤُنَا أَنْ يُقَدِّمُوا نَمُوذَجًا فَرِيدًا فِي الْعَلَاقَةِ بَيْنَ الدِّينِ وَالدَّوْلَةِ وَالثَّقَافَةِ، نَمُوذَجًا لَا يَقُومُ عَلَى الْإِقْصَاءِ، وَلَا عَلَى التَّفْرِيطِ، بَلْ عَلَى الْعَدْلِ وَالْوَسَطِيَّةِ.

مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِينَ رَحِمَكُمُ اللَّهُ،

وَقَدْ عَلَّمَنَا فِقْهُنَا أَيْضًا أَنَّ الشَّرِيعَةَ لَيْسَتْ جُمُودًا، بَلْ هِيَ حِكْمَةٌ وَرَحْمَةٌ، كَمَا قَالَ الْعُلَمَاءُ:

إِذَا ضَاقَ الأَمْرُ اتَّسَعَ، وَإِذَا اتَّسَعَ ضَاقَ

أَيْ: أَنَّ أَحْكَامَ الشَّرِيعَةِ تَتَّسِمُ بِالْمُرُونَةِ عِنْدَ الضَّرُورَةِ، وَبِالْحَزْمِ عِنْدَ الْقُدْرَةِ، وَذَلِكَ كُلُّهُ حِفْظًا لِلدِّينِ، وَالنَّفْسِ، وَالْعَقْلِ، وَالْمَالِ، وَالنَّسْلِ.

فَلَا غَرَابَةَ أَنْ يَكُونَ فِقْهُ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ فِقْهًا يَجْمَعُ بَيْنَ الثَّبَاتِ فِي الْأُصُولِ، وَالْمُرُونَةِ فِي الْفُرُوعِ، وَيَجْمَعُ بَيْنَ الْوَفَاءِ لِلنُّصُوصِ، وَالْوَعْيِ بِالْمَقَاصِدِ.

مَعَاشِرَ الْمُؤْمِنِينَ رَحِمَكُمُ اللَّهُ،

إِنَّ أُمَّتَنَا الْيَوْمَ فِي حَاجَةٍ مَاسَّةٍ إِلَى هَذَا الْفِقْهِ الْحَيِّ، فِقْهٍ يُنْقِذُ الدِّينَ مِنَ التَّشَدُّدِ، وَيُنْقِذُ الْوَطَنَ مِنَ الْفِتَنِ، وَيَجْمَعُ وَلَا يُفَرِّقُ، وَيُصْلِحُ وَلَا يُفْسِدُ.

فَاتَّقُوا اللَّهَ يَا عِبَادَ اللَّهِ، وَتَمَسَّكُوا بِمَنْهَجِ عُلَمَائِكُمْ، وَاحْفَظُوا دِينَكُمْ، وَاحْفَظُوا أَوْطَانَكُمْ، فَإِنَّ حِفْظَ الْأَوْطَانِ مِنْ حِفْظِ الدِّينِ.

ثُمَّ صَلُّوا وَسَلِّمُوا عَلَى نَبِيِّكُمْ،
كَمَا أَمَرَكُمُ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.

اللهم صلِّ وسلِّم وبارك على سيدنا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ.
اللَّهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا إِنْدُونِيسِيَا، وَاجْعَلْهَا بَلَدًا آمِنًا مُطْمَئِنًّا، سَخَاءً رَخَاءً، وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللَّهِ،
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ، وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. ولذكرالله أكبر. (*)

Naskah lengkap teks khutbah shalat jumat bisa diunduh di sini

Oleh: Yusuf Arifai, Dosen Ma'had Aly At-Tarmasi Pacitan

Pewarta : Yusuf Arifai
Editor : Ronny Wicaksono
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Kapuas just now

Welcome to TIMES Kapuas

TIMES Kapuas is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.